Archive for Kartini

Kartini Menggugat

Sejatinya, Kartini adalah seorang kritikus sosial yang progresif. Lewat surat-suratnya, kerumitan sejarah masa itu diungkapkan dengan segala keleluasaan dan tidak terkontaminasi oleh sistem dominan. Ide-idenya menjadi dokumen sejarah yang berasal dari luas dalan dalamnya pandangan seorang nasionalis dalam lingkaran artikulasi Jawa pada akhir abad 19. Sayangnya, ia jarang diperbincangkan dalam lingkup yang variatif. Sampai saat ini ia melulu ditempatkan sebagai sosok perempuan Jawa yang feodal dan tradisional. Bahkan, di kalangan kaum muda, Kartini dianggap kuno dan ndeso. Benarkah demikian?

Perlu kita ingat, Kartini hidup dalam kompeksitas cengkeraman feodalisme Jawa dan kolonialisme Belanda yang begitu kuat. Akan tetapi dia cukup punya nyali untuk mengorbankan sebagian dari dirinya untuk menggugat. Tidak hanya berusaha menyingkap kabut bagi kaum perempuan, namun ia juga memperjuangkan keterbelakangan dan kebodohan pribumi. Ia banyak mengajukan kritik baik terhadap pemerintah kolonial Belanda maupun kepada kaum feodal Jawa yang ketika itu “impoten” secara politis. Bahkan, ia berani melontarkan gugatan pedas mengenai masalah yang hingga di zaman post-modern ini pun masih sangat sensitif, yaitu masalah agama dan kekerasan. Dalam surat yang ditulisnya kepada seorang feminis Belanda Stella Zeehandelaar 6 November 1989, Kartini menulis, “Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama? Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana. Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. …Aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini?”

Cara berpikir seperti Kartini ini tergolong berani. Memang, agama dan kekerasan adalah lagu lama yang selalu berkumandang di sepanjang peradaban manusia sejak dulu. Dalam konteks luas, baik secara individu maupun kolektif, agama sering dihidupi secara kaku dan bahkan disimulatif sehingga penghidupan semacam ini sering memberangus toleransi, mengesampingkan logika kemanusiaan dan hati nurani. Untuk konteks sekarang, kerusuhan Poso, pembakaran gereja di Sambas, perang saudara di Ambon, perusakan tempat-tempat ibadah di Jawa dan tragedi bom Bali telah mengingatkan kita betapa agama dijadikan alasan—oleh kelompok-kelompok tertentu—untuk menjahati kemanusiaan dan mengangkangi moralitas.

Sesungguhnya, pandangan Kartini ini ditulis dalam rangka menyikapi paradoks-paradoks kehidupan keagamaan saat itu, termasuk masalah poligami. Secara implisit ia juga mengeluhkan “keterpingiran” yang dialami ibu kandungnya, Ngasirah, karena poligami. Ia mempertanyakan bagaimana sebenarnya poligami terakomodir dan tumbuh subur dalam payung agama. Lagi lagi, substansinya terletak pada pemahaman keliru terhadap dogma agama sehingga kerap kali agama hanya dijadikan sebagai simbol formal dalam masyarakat dan legitimasi politis kekuasaan, termasuk kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Hingga zaman post-modern ini, kiranya gugatan dan pandangan Kartini tentang agama, kekerasan dan poligami masih tetap menjadi pro-kontra yang sengit.

Kartini dan opium
Sementara itu, Kartini juga memiliki keprihatinan lain yang tak kalah serius, mengenai opium. Tidak jauh beda dengan merajalelanya narkoba saat ini, lewat suratnya tertanggal 13 Januari 1900, Kartini memberitahu kita bahwa pada abad 19, opium atau ganja telah menjadi candu masyarakat; “Ada setan yang lebih jahat daripada minuman keras! Opium! Oh mengerikan! Keganasan opium sungguh tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Opium adalah sebuah penyakit di Jawa. Ya, opium lebih ganas dari pada penyakit itu sendiri. Penyakit pasti bisa sembuh namun opium, kejahatan opium bisa menyebar dan melebar kemana-mana dan tak pernah, tak akan pernah bisa ditangani dengan satu peraturan Pemerintah! Semakin banyak penggunanya semakin menjadi besarlah bisnis ini. Bisnis opium adalah bisnis yang paling menjanjikan bagi pemerintah Belanda. Meraka untung tapi rakyat buntung…apakah rakyat menjadi baik atau tidak mereka peduli apa?…banyak yang bilang opium itu tidak merugikan, oh…mungkin mereka buta…tidak merugikan bagaimana?pembunuhan, pembakaran, perampokan, apalagi kalau bukan akibat langsung dari opium!”

Dalam konteks sejarah yang lebih luas, polarisasi perdagangan opium saat itu memang sangat serius. Pada tahun 1870an, opium ada disegala penjuru pulau Jawa dan dinikmati oleh rakyat dari segala kalangan dan menjelang akhir abad 19, pasar-pasar opium terkaya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suhartono, 1993). Dikalangan kaum priyayi, opium sudah menjadi lambang keramahtamahan dan prestis untuk menjamu tamu. Kegandrungan rakyat Jawa pada opium masih berlanjut hingga awal abad 20. Ini bisa kita lihat dari surat Kartini kepada Abendanon Mandri—seorang perempuan Belanda yang ia panggil Ibu—yang masih mengeluhkan hal serupa (10 Agustus 1904).

Sastrawan
Adalah tidak berlebihan bila orang menyebut Kartini sebagai seorang sastrawan. Sebagai seorang anak nigrat Jawa, ia mempunyai akses dan waktu yang lebih daripada rakyat kebanyakan. Dan, waktunya banyak dia isi dengan membaca dan menulis. Dari keduanya, dia bisa memiliki lebih banyak kebebasan untuk mecurahkan semua yang ia rasakan dan pikirkan, termasuk mencurahkan kegaulan hatinya ketika ia tidak berani menggugat. Dalam banyak suratnya, ia sering menggunakan ruang simbolik dari tulisan kreatifnya, membiarkan dirinya berefleksi dan bervisualisasi secara metaforis tentang citra dirinya. Tanggal 13 Januari 1900 ia menulis, “Gamelan kaca yang ada di Pendopo itu bisa bercerita padamu lebih banyak daripadaku. Mereka melantunkan lagu kesayangan kami. Hm, bukan sebuah lagu, bukan pula sebuah melodi, hanya suara-suara dan getaran-getaran lembut, berpadu dan mengalir begitu saja, tapi disaat yang sama terdengar begitu menentramkan sukma, mengalir begitu syahdunya! Bukan, bukan itu, itu bukan suara dari kaca, tembaga atau kayu; itu adalah suara jiwa-jiwa manusia yang sedang berbicara kepada kami, kadang gundah, kadang meratap dan jarang sekali tertawa bahagia. Dan jiwaku terbang terbawa desiran suara-suara itu, suara gamelan, kelangit biru, melewati awan tipis, menerpa sinar gemintang—bunyi gong bergaung keras membawaku kelembah gulita, kejurang yang dalam, melewati belantara yang takterjamah manusia!Dan jiwaku gemetar ketakutan, kesakitan dan perih!”

Rupa-rupanya, dibalik kegagahan Kartini, ia juga mempunyai ruang privat. Lewat ungkapan metaforis ini, menyimpan apa yang tersembunyi, mungkin rahasia kelam kehidupan dirinya. Lewat lantunan gending Jawa itu, Kartini menggunakan imajinasiya untuk menciptakan kisah hidupnya sendiri yang terapung-apung ditengah jalan antara kenyataan dan dunia mimpi. Kreatifitas mengungkapkan gagasan-gagasan yang hilir mudik berseliweran dalam kepalanya tersebut jelas menunjukkan ketrampilan dan kematangan sastra.

Kartini dan rasisme
Kartini adalah juga pelopor kesetaraan ras. Ini ia tunjukkan dengan kritiknya pada politik rasisme Belanda. Ia terlihat sangat emosional dalam menanggapi masalah ini. Ia menulis, “…dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan’. Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan ‘Hindia yang miskin’. Orang mudah sekali lupa kalau ‘negeri kera yang miskin ini’ telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal disini.”

Catatan Kartini ini menyodorkan sebuah pembenaran bahwa politik rasisme Belanda dibangun dalam ukuran cranial measurements and facial comparisons (lewat ukuran batok kepala dan perbandingan wajah) (Krishnaswamy, 1998). Selain itu, Hindia Belanda juga digambarkan seperti apa yang disebut Ien Ang (2001) sebagai a site of deprivation (tempat yang serba kekurangan). Yang terjajah diindentikkan dengan fisik yang buruk, bodoh, tradisional dan tidak berbudaya, sedangkan si penjajah diposisikan sebagai yang pandai, cakap secara fisik, modern dan berbudaya.

Kartini sadar benar bahwa konstruksi rasis semacam itu menghancurkan rasa percaya diri rakyat yang masih hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Hal inilah salah satu latar belakang mengapa dia menggugat dan mengirimkan sebuah nota kepada pemerintah kolonial Belanda untuk memberi akses pendidikan bagi pribumi. Nota itu terkenal dengan nama Nota Pendidikan (1903).

Seperti kita tahu, oleh rezim lalu Kartini disudutkan dan dihadirkan sebagai perempuan domestik. Label itu itu pula yang membuat masyarakat umum mempunyai pandangan keliru tentang kepoloporannya. Seiring berlalunya rezim tersebut, hendaknya kita perlu mempertimbangkan kembali akan dedikasi dan partisipasi Kartini sebagai salah satu tokoh progresif di Indonesia.
Vissia Ita Yulianto
Penerjemah Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar
((1899-1903) – Kompas, 2004).
Artikel ini pernah terbit di Harian SINDO, 21 April 2008