Semenjak saya pindah kantor yang baru (baru hampir 2 bulan ini) ada kebiasaan setiap pagi saya bersama rekan saya sarapan pagi di tukang gule dekat tikungan di kantor saya. Makanya, kami sering menamainya “Gultik” alias gule tikungan. Selain murah meriah tapi menunya menggunakan daging (namanya juga gule). Yang menarik lagi, karena sang penjual gultik itu orang Jawa (sejenis dengan saya) tepatnya di Klaten. Jadi, seringkali pembicaraan kami menggunakan bahasa Jawa (kayak bukan di Jakarta saja, hehehe). Dan kebanyakan yang makan di sana juga orang-orang Jawa perantauan. Ya sudah, Jawalah Indonesiaku, hehehe. Dari hari ke hari maka jadi agak akrablah kami dan muncul beberapa perbincangan yang mana sekarang cukup up to date ya mengenai lebaran dan mudik. … continue reading this entry.
Archive for Blogroll
Salam kawan InSPiCio
Salam kawan InSPiCio
Maafkan untuk masa-masa rehal-ku; seharusnya ini tidak terjadi..tpi beginilah kalau masalah kebutuhan ekonomi dan tetek bengeknya menjadi pokok utama pencarian hidup. Persisnya, gak ada yang akan terpuaskan ketika seseorang melulu mengikuti bujuk rayu kebutuhan perut. Terima kasih untuk mo Kandar yang sudah bersusah payah mewujudkan mimpi kita, beberapa kesibukan memang cukup menyita waktuku untuk mengabari (menjalankan) blog secara simultan. Semoga hari-hari ini, komitmen pada inspicio tetap terjaga hingga bisa nyata mimpi-mimpi INspiCio menjadi pasukan edukasi di medan MEDIA.
Berikut ada tulisan pertama; oleh-oleh dari Banyumas, sewaktu pul-kampung kemarin: Mbah Boncel, Musafir dari Bantul!
Mbah Boncel, Musafir dari Bantul
Seperjalanan ke Kaliori, di daerah Kemranjen Banyumas , kami (saya+seorang kawan) mendapati “musafir”, yang sedang mengayuh sepeda dengan santai menuju arah Jogja. Mbah Boncel (58 thn), begitu pengakuannya, memasuki hari ke 381 setelah hampir setahun dia mengelilingi Indonesia. Berbekal niat dan tekad, dana 70 ribu rupiah, tanggal 11 November 2006, mbah Boncel berangkat dari Srandakan, Bantul menuju Merauke. Selepas Merauke, ia menuju Batam, Aceh, Jakarta, dan terakhir Jogja.
Seketika terbersit insting jurnalistik saya. Maka kami segera menghentikan motor, menemui mbah boncel dan mewawancarainya seperti wartawan betulan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul barangkali pertanyaan yang sama setiap kali Mbah Boncel menerima pertanyaan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan. Pasalnya, meski rambutnya memutih, dan keriput wajahnya menampakkan ketuaannya, mbah Boncel selalu bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar, bersemangat (mungkin, ia sudah terlalu sering mendapat pertanyaan yang sama).
Hal menarik dalam obrolan singkat, mbah Boncel konsisten pada tujuan perjalanannya; mendoakan anaknya lulus SMA dan dapat kerja, serta berdoa dengan ujub kedamaian keluarga. Ini misi utama Mbah Boncel; Setiap kali Mbah Boncel mungkin paling terkesan saat di Merauke, ada seorang janda yang tertarik dengan Mbah Boncel dan berniat untuk menjadi istrinya. Melihat fotonya di buku folio yang dibawanya sebagai diary, janda itu masih muda dan cantik (sungguh lho). Tapi, mbah Boncel tidak bergeming, “jika mau aku bisa membawanya pulang dan memperistrinya tapi TIDAK saya lakukan. Saya mencintai istri saya”, aku mbah Boncel (rec.bd/16/09/07).
***
Aku kagum sekaligus heran pada mbah Boncel. Sepertinya, hidupnya begitu ringan. Jalan-jalan ke pelosok negeri dengan tanpa beban. Tapi, begitulah “pilihan hidup” yang dijalani mbah Boncel, sembari mengobati impiannya sejak kecil – mengelilingi Indonesia.
Pasti, keberangkatan mbah Boncel berangkat dari suatu keprihatinan. Setelah salah sangka, karena kukira kepetualangannya karena stress pasca gempa tahun lalu, aku menyulam dengan hati-hati tiap pertanyaan yang kuajukan pada mbah Boncel. Mbah Boncel tidak pernah menyesali terjadinya gempa. Tetapi mungkin kemendesakan situasi pasca gempa di jogja, membuatnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Yup!
Keprihatinan ini melahirkan sebuah keberanian untuk melakukan “peregrinasi (perjalanan)”. Bahkan melewati rute yang belum pernah dilalui sama sekali. Pilihan yang bodoh! Satu dua pendapat mungkin terlontar dari orang-orang yang sangsi pada kemampuan mbah Boncel. Namun, keyakinan yang berdiam dalam diri mbah Boncel menegaskan hukum posibilitas. Tidak ada sesuatu yang tak mungkin. Perjalanan itu bukan sekedar menjalani keterlemparannya sebagai manusia yang patah arang pasca gempa, tetapi perjalanan reflektif. Di lain sisi, berbagai rahmat yang diterima semisal kesehatan dan kehidupan (teologis: karya penyelamatan) yang dialami mbah Boncel “sedikit” menyanggah Nietzsche bahwa Tuhan itu belum mati. Tuhan masih ada dan menemani setiap aktivitas yang dilakukan manusia. “Saya tidak pernah takut pada siapapun, baik makhluk halus maupun begal. Kula pasrah kok, Mas!” Niat dan tekad mbah Boncel mengikuti kata hatinya makin diperkuat oleh ketulusan hatinya kepada Sang Pencipta.
Nilai ketulusan ini seperti mahkota di negeri ini. Hanya orang-orang pilihan yang bisa mengenakannya, kemudian duduk di atas singgasana. Mungkin mbah Boncel termasuk di antaranya. Sebab, ketulusan dekat dengan pengorbanan. Bayangkan saja, selama setahun ia menanggalkan kerinduannya pada anak dan istrinya. Sebagaimana ia tulis di sepeda tuanya, sebagai motto: Rindu istri! Dan pengorbanan yang dilakukan mbah Boncel diikuti pula oleh keluarganya, yang dengan rela dan membiarkan mbah Boncel melanglang buana. Kiranya, pengorbanan untuk rela meninggalkan dan ditinggalkan ini menjadi bentuk askese yang patut dihayati, di zaman sekarang ini.
Dibandingkan dengan orang tak berada, orang dengan kelimpahan harta dan kedudukan akan lebih sulit “meninggalkan” rasa kepemilikannya, termasuk di dalamnya status sosial “terpandang” di mata masyarakat. Kesulitan untuk meninggalkan kelekatan-kelekatan duniawi inilah yang kerapkali menimbulkan pertentangan. Majikan tak mau membayarkan gaji pembantu, perusahaan memecat karyawan tanpa memberi pesangon, para menteri yang gagal bekerja tak mau mundur dengan dalih mundur berarti pengecut, pimpinan-pimpinan partai pun enggan beranjak dari kursi empuknya, dan lain-lain.
Ketulusan selalu disertai dengan pengorbanan. Dan pengorbanan berarti harus rela “meninggalkan” dan “ditinggalkan” berbagai kelekatan duniawi. Saat itulah, Anda telah “layak” disebut musafir.
Salam
Budi




