Semenjak saya pindah kantor yang baru (baru hampir 2 bulan ini) ada kebiasaan setiap pagi saya bersama rekan saya sarapan pagi di tukang gule dekat tikungan di kantor saya. Makanya, kami sering menamainya “Gultik” alias gule tikungan. Selain murah meriah tapi menunya menggunakan daging (namanya juga gule). Yang menarik lagi, karena sang penjual gultik itu orang Jawa (sejenis dengan saya) tepatnya di Klaten. Jadi, seringkali pembicaraan kami menggunakan bahasa Jawa (kayak bukan di Jakarta saja, hehehe). Dan kebanyakan yang makan di sana juga orang-orang Jawa perantauan. Ya sudah, Jawalah Indonesiaku, hehehe. Dari hari ke hari maka jadi agak akrablah kami dan muncul beberapa perbincangan yang mana sekarang cukup up to date ya mengenai lebaran dan mudik.
Dari ‘prejengan’ atau penampilan gerobak dorongnya saja sebenarnya sudah kelihatan kalau modal yang dikeluarkan bukan modal yang besar. Harga masakannyapun terbilang cukup murah untuk ukuran menu daging, yaitu seputar lima ribu bahkan empat ribu untuk menu campur. Itupun sudah plus dengan teh hangat gratis boleh nambah sesukanya (opo ora mak-nyus tenan untuk sarapan….). Sambungannya mungkin dapat diprediksi, berapa keuntungan yang mungkin diraup setiap bulannya….ya katanya sih hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari yang tidak neko-neko (katanya entah bener atau ndak seputar 250 – 500 ribu perbulan). HP saja untuk jaman modern seperti ini dia belum juga punya.
Namun hari lebaran ternyata tidak pernah terlewatkan untuk kembali ke kampung halamannya. Kata Mas Gultik, kerja setahun habis dalam sehari kalau pas hari lebaran terjadi. Hehehe, jadi kalau dipikir-pikir secara bodoh orang kerja dan nabung hanya untuk mudik dan lebaran saja (becanda loh ini, tanpa maksud merendahkan makna dan arti berlebaran). Namun, untuk orang-orang seperti Mas Gultik, bisa jadi ya seperti itu. Uang hasil keringat yang dihasilkan yang tak seberapa memang dikumpulkan untuk tujuan bisa mudik pada saat lebaran nanti. Menjadi hal yang selalu dirindukan ketika setahun terpisah dari keluarga. Entah punya uang banyak atau ala kadarnya, tapi tetep pulang kampung untuk berlebaran bersama sanak famili. Seringkali orang pulang kampung identik dengan orang yang punya banyak uang, namun hal itu tidak merisaukan Mas Gultik bilamana dia pulang tanpa membawa uang banyak, yang penting pulang bertemu Bapak Ibu di rumah.
Selama ini saya berpikir, orang hidup, menabung dan menyiapkan ini itu hanya untuk diri sendiri. Kadang menjadi melupakan orang-orang yang mencintai dan dicintai yang banyak berperan hingga saya menjadi orang yang seperti ini. Cerita Mas Gultik mengingatkan saya bahwa hasil kerja keras selama hidup itu tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga bisa menjadi berkah untuk sanak saudara dan orang lain. Bukan berarti harus memberikan barang-barang yang wuah kepada mereka tetapi menyisihkan waktu untuk bisa bertemu dengan mereka pun menjadi salah satu bentuk kasih dan perhatian. Uang dikumpulkan untuk bisa mudik, bertemu lagi dengan sanak saudara yang ditinggal selama hampir 11 bulan merantau.
Tempat untuk berbahagia itu di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia. – Robert G. Ingersoll.
Ditambahi dewe yen kurang maknane…nuwun… ***
Rahmat Raharjo





Agatho Said:
on October 16, 2007 at 4:46 am
Hari ini belajar dari permenungan bunda Maria….Ibuku yg satu ini sungguh pendiam..dalam kondisi jadi bahan omongan krn kehamilannya…dia diam dan berpasrah….bahkan ketika hamil besar dia menghibur Elisabet saudaranya….kondisiku kayaknya belum sepahit dia..tapi apa yg terjadi rasanya terlalu sering aku mengeluh..baik pasanganku maiupun ke teman-teman. di bulan yg fitri penuh kemenangan ini aku juga mendapat hikmah dari permenungan rosario yg kami lakukan sekeluarga… ternyata diam…tetap bekerj keras…namun penuh kepasrahan dan doa…itu ternyata memberika support yang luar biasa bagi pendampingku… bahkan akhir-akhir ini sungguh saya rasakan suri teladhan ibundaku itu ternyata memang membawaku pada pernytaan diam itu emas…kayak buku saku sbg bahan renungan dr Rm Suwaji, CM. Diam itu Emas. sikap diam ini sekarang membawa terang bagi orang disekelilingku paling tidak di lingkungan keluargaki… apa yg sulit dlm hidup tdk akan aku timpakan kepada orang lain tp aku serahkan kembali kepada Sang Penciptaku krn Dia yg perkasa dan yg pasti mengangkat beban di pundakku ketika aku merasa beban itu terlalu berat. Maturnuwun duh Ibu prantaraning sadaya rahmat-kabegjan
YB. Utama Said:
on October 22, 2007 at 4:39 am
Wah..seruuuu
seru ceritamu Met, lebih seru lagi kalo kamu ntraktir kita2..hehehe…
Aku setuju denganmu, sepertinya orang-orang seperti Mas Gultik perlu kita bantu deh..Maksudku supaya orang-orang kayak masgultik itu belajar mem-planning hidupnya, misalnya berlatih untuk investasi, menabung, dan sebagainya. Atau mungkin ada data lebih detail tentang itu Met tentang masGultik? Siapa tahu di kampungnya sono dia punya sawah berhektar2… lha itu baru investment thingking..
PF atas ceritanya
Martin Said:
on October 23, 2007 at 12:53 pm
setelah baca tulisanmu, Kemet, aku kok jadi merasa bersalah karena tidak pulang waktu lebaran kemarin. Memang di tempatku lebaran tidak lagi mengenal agama. Lebaran bukan hanya milik orang Muslim tetapi milik warga desa. Saat lebaran menjadi saat yang indah untk ketemuan. Moment yang manis untuk mengenang kebersamaan itu indah.